<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>bundaninha</title>
	<atom:link href="http://bundaninha.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bundaninha.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com site</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 02:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bundaninha.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>bundaninha</title>
		<link>http://bundaninha.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bundaninha.wordpress.com/osd.xml" title="bundaninha" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bundaninha.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sebelas: Kejutaann!!!</title>
		<link>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/13/sebelas-kejutaann/</link>
		<comments>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/13/sebelas-kejutaann/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 02:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dianingtyas Kh.</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundaninha.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Hidup tanpa semangat ibarat obor yang redup karena kehabisan minyak tanah. Ibarat senter yang batereinya hampir habis. Ibarat sungai Kembang yang surut karena sumber airnya mati diterjang kemarau panjang. Ibarat bintang jatuh yang meredup tergesek oleh oksigen. Itulah Mutiara hari &#8230; <a href="http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/13/sebelas-kejutaann/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=63&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup tanpa semangat ibarat obor yang redup karena kehabisan minyak tanah. Ibarat senter yang batereinya hampir habis. Ibarat sungai Kembang yang surut karena sumber airnya mati diterjang kemarau panjang. Ibarat bintang jatuh yang meredup tergesek oleh oksigen. Itulah Mutiara hari ini.</p>
<p>Menghabiskan waktu di sekolah dengan anak-anak memang menjadi kesenangannya. Namun, tetap saja gairah itu tak dapat naik lagi menjadi seperti sedia kala. Mutiara jadi lebih banyak melamun di dalam kelas. Suasana kelas mendadak murung. Meskipun Taufan sudah mau berinteraksi saat pelajaran, tanpa Warti dan semangat Bu Mutia, anak-anak merasa ada separuh jiwa mereka yang hilang.</p>
<p>“Kita tak boleh membiarkan hal ini,” kata Dedi memberi usul.</p>
<p>“Setuju. Kita jangan sampai kehilangan semangat,” sahut Jazuli.</p>
<p>“Bu Mutia harus kembali bersemangat seperti dulu,” kata Widya dari belakang.</p>
<p>“Caranya?” kali ini Menik yang berbicara.</p>
<p>Sesaat kemudian mereka pun menggerombol dan menyusun rencana. Rencana akan dilakukan besok, tepat pada saat ulang tahun Mutiara yang kedua puluh tujuh, Untuk menyukseskan rencana ini, mereka minta bantuan kepada Bu Titi, guru IPS dan Pak Is. Mereka memang guru-guru muda yang dekat dengan anak-anak di sekolah.</p>
<p>***<br />
Keesokan harinya.</p>
<p>“Bu Mutia….” tiba-tiba Menik datang dengan tergopoh-gopoh. Mutiara yang saat itu tengah berada di perpustakaan yang selokal dengan kantor guru melengak. Istirahat kedua baru saja usai dan anak-anak harusnya sudah kembali masuk ke dalam kelas.</p>
<p>“Ada apa?”</p>
<p>“Dedi, Bu….”</p>
<p>“Kenapa dengan Dedi?”</p>
<p>“Dedi bertengkar lagi dengan Taufan…”</p>
<p>“Apa?” Mutiara terlonjak. ia sangat terkejut mendengar berita ini. Sepengetahuannya Taufan sudah berubah sikapnya, tapi mengapa hari ini ia berkelahi lagi?</p>
<p>“Di mana mereka?”<br />
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<br />
Yang jelas, ada bahagia yang menyelinap di dalam hatinya melihat rona bahagia yang memancar dari raut cantik gadis itu.</p>
<p>Hanya kutipan aja, yaaaaa&#8230;..</p>
<p>Jumlah kata 1870</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundaninha.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundaninha.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundaninha.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundaninha.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bundaninha.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bundaninha.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bundaninha.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bundaninha.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundaninha.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundaninha.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundaninha.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundaninha.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundaninha.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundaninha.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=63&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/13/sebelas-kejutaann/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b5c25099886eac1c7bccdc57a7c76b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaninha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepuluh: Sekelumit Kisah Warti</title>
		<link>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/12/sepuluh-sekelumit-kisah-warti/</link>
		<comments>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/12/sepuluh-sekelumit-kisah-warti/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 02:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dianingtyas Kh.</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundaninha.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Sejak kejadian di sungai itu, perlahan-lahan sikap Taufan mulai berubah. Ia tak lagi suka membolos meskipun belum semua tugas ia lengkapi. Tugas telah telanjur menumpuk dan mungkin berat dirasa oleh anak itu. Mutiara yang mengetahui kesulitan Taufan pun segera memanggil &#8230; <a href="http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/12/sepuluh-sekelumit-kisah-warti/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=59&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kejadian di sungai itu, perlahan-lahan sikap Taufan mulai berubah. Ia tak lagi suka membolos meskipun belum semua tugas ia lengkapi. Tugas telah telanjur menumpuk dan mungkin berat dirasa oleh anak itu. Mutiara yang mengetahui kesulitan Taufan pun segera memanggil Warti, sang ketua kelas sekaligus juara kelas untuk membantu Taufan.</p>
<p>Namun, sayang sungguh sayang. Berita yang didengarnya pagi ini sungguh tak mengenakkan hati. Hari ini dan selamanya, Warti tak lagi bersekolah di SMP Bakti Bangsa karena orang tuanya menyuruhnya untuk menjadi TKW. Ia berangkat kemarin sore, setelah mengurus semua administrasi desa yang dengan mudah mengubah usianya yang masih lima belas tahun menjadi dua puluh tahun.</p>
<p>Lemaslah Mutiara. Tiga bulan lagi Warti harusnya menjalani ujian akhir nasional demi memperoleh ijazah SMP. Hari ini, ia dikejutkan pada kenyataan bahwa anak emasnya itu harus pupus di tengah jalan karena masalah ekonomi yang menimpa keluarganya. Ia, yang anak sulung harus bertanggung jawab atas keadaan itu. Demi kelangsungan hidup dan sekolah adik-adiknya, ia rela keluar dari bangku SMP, demi mengais dolar di negeri seberang.</p>
<p>“Mbak Susan yang mengajaknya, Bu,” begitu kata emak Warti, ketika Mutiara mengunjungi rumahnya sepulang dari mengajar.</p>
<p>“Mbak Susan siapa, Mak?” tanya Mutiara. Ia memang sudah mengenal emak Warti dan terbiasa memanggilnya dengan sebutan emak sejak kecil.</p>
<p>“Itu, Mbak Susanti, yang rumahnya dekat pasar sayur.”</p>
<p>“Susanti? Seingat saya panggilannya dulu Santi. Kenapa sekarang jadi Susan?”</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Kutipan lagi&#8230;<br />
Jumlah kata 1890</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundaninha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundaninha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundaninha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundaninha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bundaninha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bundaninha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bundaninha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bundaninha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundaninha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundaninha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundaninha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundaninha.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundaninha.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundaninha.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=59&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/12/sepuluh-sekelumit-kisah-warti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b5c25099886eac1c7bccdc57a7c76b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaninha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sembilan: Di Air Jernih Kulukis Wajah Ibunda</title>
		<link>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/sembilan-di-air-jernih-kulukis-wajah-ibunda/</link>
		<comments>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/sembilan-di-air-jernih-kulukis-wajah-ibunda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 03:47:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dianingtyas Kh.</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundaninha.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Semua seperti roda. Berputar dan berputar. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Namun, bagaimana pun, hidup harus terus berjalan. Mutiara sadar itu, Meskipun belum dapat menghilangkan semua kesedihannya, ia tetap berangkat ke sekolah dan melaksanakan tugasnya seperti biasa. Justru, &#8230; <a href="http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/sembilan-di-air-jernih-kulukis-wajah-ibunda/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=56&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua seperti  roda. Berputar dan berputar. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Namun, bagaimana pun, hidup harus terus berjalan. Mutiara sadar itu, Meskipun belum dapat menghilangkan semua kesedihannya, ia tetap berangkat ke sekolah dan melaksanakan tugasnya seperti biasa. Justru, dengan ia berangkat ke sekolah, ia akan dapat melupakan kesedihannya.</p>
<p>Namun, entahlah, semua orang jadi bersikap aneh kepadanya. Tak ada lagi yang berani bergurau dengannya, seakan takut kalau gurauan itu akan menyakiti hati Mutiara. Teman-teman yang sedang bercengkerama pun mendadak diam jika ada dia di ruangan itu. Mutiara sangat bersedih melihat kenyataan ini, tetapi ia tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya diam saja melihat sikap kawan-kawannya. Ia tahu, mereka bersikap demikian karena mencintainya, karena takut  membuat Mutiara tersinggung dan bersusah hati. Sudah berulang kali dikatakannya, ia tetaplah Mutiara yang dulu. Namun, semua berubah. Mutiara menjadi tak merasa nyaman jika tengah berada di kantor bersama mereka.</p>
<p>Setelah beberapa lamanya tak berulah, kali ini Taufan berulah lagi. Ia bolos saat jam pelajaran olahraga. Menurut kawannya, Taufan pergi ke sungai yang letaknya di lembah, tak jauh dari sekolahnya. Untuk menuju ke sungai itu cukup menuruni tebing-tebing yang tak begitu curam karena  sudah dialihfungsikan sebagai tegalan. Mutiara yang dilapori oleh Pak Is segera menuju ke sungai untuk mencari anak itu.</p>
<p>Sungguh sebuah kebetulan tentunya. Ia butuh tempat untuk melarikan kesedihannya. Dan bolosnya Taufan siang ini adalah sebuah anugerah yang tak terkira baginya karena ia memiliki alasan untuk hengkang dari kantor yang membosankan. Segera saja ia bergegas menuju ke arah sungai. Dari pintu belakang sekolah, ia berjalan hati-hati menuruni tebing yang penuh bebatuan. Seperangkat alat gambar ada di dalam tas plastik di pegangan tangan kirinya. Ia sedang mempersiapkan terapi untuk Taufan.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
Kutipan kutipan&#8230;<br />
Jumlah kata 2306</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundaninha.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundaninha.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundaninha.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundaninha.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bundaninha.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bundaninha.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bundaninha.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bundaninha.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundaninha.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundaninha.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundaninha.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundaninha.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundaninha.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundaninha.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=56&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/sembilan-di-air-jernih-kulukis-wajah-ibunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b5c25099886eac1c7bccdc57a7c76b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaninha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Delapan: Tak Seindah Janji Terucap</title>
		<link>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/delapan-tak-seindah-janji-terucap/</link>
		<comments>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/delapan-tak-seindah-janji-terucap/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 03:43:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dianingtyas Kh.</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundaninha.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[“Hei!” sapa Mutiara kepada Berlian di kamarnya, ketika ia usai mandi dan shalat magrib. Berlian menolehnya, lantas memeluknya dengan pelukan erat. “Tumben, pulang nggak pakai acara kabar-kabar dulu,” kata Mutiara. Rindu sekali ia pada adiknya ini. Mungkin empat bulan mereka &#8230; <a href="http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/delapan-tak-seindah-janji-terucap/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=53&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Hei!” sapa Mutiara kepada Berlian di kamarnya, ketika ia usai mandi dan shalat magrib. Berlian menolehnya, lantas memeluknya dengan pelukan erat.</p>
<p>“Tumben, pulang nggak pakai acara kabar-kabar dulu,” kata Mutiara. Rindu sekali ia pada adiknya ini. Mungkin empat bulan mereka tak bertemu.. Terakhir saat lebaran haji kemarin, itu pun hanya sejenak ia pulang. </p>
<p>“Biar jadi kejutan, Ra,” katanya sambil tersenyum.<br />
“Dan aku memang terkejut, kan?” sahut Mutiara jenaka. “Kamu kurusan sekarang. Capek dengan pekerjaan?”<br />
Berlian mengangguk.  “Begitulah Jakarta, Ra. Tak ada matinya. Beda sekali dengan desa kita, ya.”<br />
“Itu makanya, aku heran kenapa kamu ngotot ke Jakarta. Kalau aku sih tak bisa tidur nanti.”<br />
Gurauan Mutiara puin disambut dengan tawa berderai dari mereka berdua.</p>
<p>Memang, meskipun mereka berbeda karakter, hubungan mereka selalu akrab. Mutiara yang cukup tahu diri dengan keadaannya selalu bisa ngemong adiknya itu dalam semua hal sehingga Berlian pun menyayangi Mutiara seperti kakak kandungnya sendiri.</p>
<p>“Tiaraaa…” seru Bu Wirya dari ruang tamu. “Ke sinilah sebentar, Nak.”<br />
“Ya, Bu,” sahut Mutiara sambil melangkah menuju ruang tamu. “Kamu tak ikut?” tanyanya kepada Berlian sebelum meninggalkan kamar Berlian. Berlian menggeleng. Ia tahu, sebentar lagi Mutiara pasti tak akan bisa tersenyum kepadanya.</p>
<p>***<br />
Pernikahan itu pun akhirnya dilangsungkan dengan sangat sederhana tiga hari kemudian. Mutiara dengan ketegaran hati yang sempurna tampak mendampingi Berlian. Ditebarkannya senyum kepada semua orang yang memandangnya dengan penuh kasihan. Ya, penuh kasihan. </p>
<p>Padahal, Mutiara paling benci dikasihani. Dikasihani orang hanya akan melemahkan hati saja. Namun, ia pun tak dapat melarang orang-orang itu kasihan kepadanya. Hidupnya memang layak untuk dikasihani. Seandainya ia adalah orang lain yang melihat kondisinya seperti itu, ia juga pasti akan jatuh kasihan.</p>
<p>Bayangkan saja. Anak yang sejak lahir tak mengenal bapaknya karena pergi dengan perempuan lain. Hidupnya sebagai anak pungut dan akhirnya harus mengalah kepada adiknya, anak orang tua yang mengangkatnya anak, untuk menyerahkan kekasihnya kepada adiknya itu. Seorang perawan tua yang batal menikah dan dilangkahi adiknya. Lengkap sudah penderitaannya.</p>
<p>Ah, tidak, kata Mutiara menguatkan hati. Masih ada anak-anak. Merekalah jiwanya. Merekalah pengabdiannya. Urungnya pernikahannya justru akan membuatnya bisa bertahan lebih lama di sekolahnya tercinta.</p>
<p>Aku harus bangkit, tekadnya.<br />
Jumlah kata: 1574</p>
<p>Masih kutipan&#8230;</p>
<p><a href="http://bundaninha.files.wordpress.com/2012/01/januari-50k1.jpg"><img src="http://bundaninha.files.wordpress.com/2012/01/januari-50k1.jpg?w=584" alt="" title="januari 50K"   class="aligncenter size-full wp-image-54" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundaninha.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundaninha.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundaninha.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundaninha.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bundaninha.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bundaninha.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bundaninha.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bundaninha.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundaninha.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundaninha.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundaninha.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundaninha.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundaninha.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundaninha.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=53&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/delapan-tak-seindah-janji-terucap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://bundaninha.files.wordpress.com/2012/01/januari-50k1.jpg?w=127" />
		<media:content url="http://bundaninha.files.wordpress.com/2012/01/januari-50k1.jpg?w=127" medium="image">
			<media:title type="html">januari 50K</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b5c25099886eac1c7bccdc57a7c76b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaninha</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundaninha.files.wordpress.com/2012/01/januari-50k1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">januari 50K</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tujuh: Sang Pelukis</title>
		<link>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/tujuh-sang-pelukis/</link>
		<comments>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/tujuh-sang-pelukis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 02:19:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dianingtyas Kh.</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundaninha.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Mutiara melangkah dengan gamang. Dilihatnya seorang lelaki muda, mungkin seusianya tengah melukis di depan sebuah kanvas. Selain lukisan setengah jadi yang dilihat Mutiara, ia juga menyaksikan beberapa benda seni terpajang di sana. Beberapa patung yang tinggal memasuki tahap finishing, beberapa &#8230; <a href="http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/tujuh-sang-pelukis/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=51&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mutiara melangkah dengan gamang. Dilihatnya seorang lelaki muda, mungkin seusianya tengah melukis di depan sebuah kanvas. Selain lukisan setengah jadi yang dilihat Mutiara, ia juga menyaksikan beberapa benda seni terpajang di sana. Beberapa patung yang tinggal memasuki tahap finishing, beberapa ukiran kayu, dan sejumlah besar lukisan. Semuanya bagus, semuanya indah. Rupanya sang pelukis termasuk penganut aliran realisme dan Mutiara sangat menyukai lukisan-lukisan bergaya demikian karena ia memang bukan orang seni sehingga terkadang susah untuk memahami karya-karya seni yang bersifat absrak atau ekspresionisme.</p>
<p>Mutiara begitu kagum terhadap karya-karya senirupa yang ada di depannya, tetapi mendadak kekagumannya bertambah melihat sesosok tubuh tampan yang sedang berada di depan sebuah kanvas, asyik menyelesaikan lukisannya yang masih  setengah jadi. Laki-laki itu bertubuh tinggi, tak begitu kekar tetapi proporsional. Kulitnya terang, tetapi tak menunjukkan kesan lemah. Hidung dan bibirnya adalah perpaduan sempurna mahakarya Sang Pencipta. Rambut hitamnya agak ikal, sedikit panjang tetapi justru menunjukkan paduan yang sempurna dengan hidung dan mulutnya. Namun, yang paling membuat Mutiara terpaku pada mata kelam yang  sekarang tak sedang menatapnya itu. Mata itu mengandung magnet yang luar biasa, yang membuat orang akan tunduk padanya hanya dengan dipandang saja. </p>
<p>Sayang, mata itu tak kunjung menatapnya sehingga Mutiara tak tahu bagaimana hendak memulai percakapan. Bagaimana hendak memulai jika satu-satunya orang di ruangan itu tak sadar akan kehadirannya? Sesaat lamanya Mutiara mematung saja, menunggu sang empunya ruangan mempersilakannya berbicara. Namun, setelah ditunggunya sekian lama, si pelukis itu abai terhadap keberadaannya, kekaguman Mutiara terhapad laki-laki itu mendadak luntur. Meskipun tampan, ahli lukis, kalau tak menghargai orang lain, apalagi tamu, apalah baiknya. Tiba-tiba menyelusup jengkel yang teramat sangat kepada laki-laki itu. Alangkah sombongnya ia. Apa karena ia kaya lantas berhak bersikap seperti itu? </p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. kutipan<br />
Jumlah kata: 1644</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundaninha.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundaninha.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundaninha.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundaninha.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bundaninha.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bundaninha.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bundaninha.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bundaninha.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundaninha.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundaninha.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundaninha.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundaninha.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundaninha.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundaninha.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=51&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/10/tujuh-sang-pelukis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b5c25099886eac1c7bccdc57a7c76b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaninha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Enam: Romansa</title>
		<link>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/07/enam-romansa/</link>
		<comments>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/07/enam-romansa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 02:01:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dianingtyas Kh.</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundaninha.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Hujan masih menyisakan gerimis ketika Mutiara remaja berdiri di bawah gerbang sekolahnya untuk menunggu angkutan desa yang menuju rumahnya. Angkutan desa berupa mobil Isuzu itu memang hanya datang setengah jam sekali. Jika ia terlambat datang, maka dipastikan ia akan meunggu &#8230; <a href="http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/07/enam-romansa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=48&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan masih menyisakan gerimis ketika Mutiara remaja berdiri di  bawah gerbang sekolahnya untuk menunggu angkutan desa yang menuju rumahnya. Angkutan desa berupa mobil Isuzu itu memang hanya datang setengah jam sekali. Jika ia terlambat datang, maka dipastikan ia akan meunggu lama di depan sekolah. Masih untung jika belum kesorean. Jika sudah sore, dipastikan ia tak dapat angkutan dan harus pulang dengan dokar sampai kota kecamatan. Setelah itu ia akan berjalan kaki sambil menunggu nunutan dermawan yang memberikan pertolongannya.</p>
<p>“Gara-gara dipanggil Pak Dwi, nih,” gerutunya. Jam terakhir tadi Pak Dwi memanggilnya untuk membantu memperbaiki lay out mading sekolah yang sudah mendekati batas waktu.</p>
<p>Berlian sudah pulang terlebih dahulu bersama teman-teman satu gank-nya. Tinggallah ia seorang diri karena keluar sekolah sejam setelah bel terakhir tanda pulang sekolah dibunyikan.</p>
<p>“Sendirian?” tanya sebuah suara menyapanya.<br />
Mutiara menoleh. Irfan. Anak kelas III, sang mantan ketua OSIS yang ganteng itu.  Mutiara tersenyum.<br />
“Ya, Kak. Tadi disuruh Pak Dwi bantu benahin mading.”<br />
“Wah, jadi kamu anak mading? Biasanya anak mading pinter-pinter…”<br />
“Ah, Kakak bisa saja. Saya sih biasa saja, Kak. Kak Irfan tuh, yang lebih pinter,” sahut Mutiara.<br />
“Kamu kenal namaku?” tanya cowok itu membulatkan matanya seolah keheranan. </p>
<p>Mutiara tertawa renyah.<br />
“Kakak ada-ada saja, deh. Siapa sih yang tak kenal Kak Irfan. Kan mantan ketua OSIS.”<br />
Irfan tertawa. Manis sekali.</p>
<p>Kutipan&#8230;&#8230;&#8230;<br />
Jumlah kata: 1459</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundaninha.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundaninha.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundaninha.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundaninha.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bundaninha.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bundaninha.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bundaninha.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bundaninha.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundaninha.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundaninha.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundaninha.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundaninha.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundaninha.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundaninha.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=48&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/07/enam-romansa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b5c25099886eac1c7bccdc57a7c76b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaninha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lima: Murid Baru</title>
		<link>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/06/lima-murid-baru/</link>
		<comments>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/06/lima-murid-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 01:06:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dianingtyas Kh.</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundaninha.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[“Bu Mutia, dipanggil Pak Kepala,” kata Mahmudi, TU SMP Bakti Bangsa kepada Mutiara pada jam istirahat. “Ada penting apakah, Mud? Tumben Pak Kepala memanggilku,” sahut Mutiara yang segera beranjak dari tempat duduknya. “Kelihatannya ada murid baru, Bu,” sahut Mahmudi. “Murid &#8230; <a href="http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/06/lima-murid-baru/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=45&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Bu Mutia, dipanggil Pak Kepala,” kata Mahmudi, TU SMP Bakti Bangsa kepada Mutiara pada jam istirahat.<br />
“Ada penting apakah, Mud? Tumben Pak Kepala memanggilku,” sahut Mutiara yang segera beranjak dari tempat duduknya.<br />
“Kelihatannya ada murid baru, Bu,” sahut Mahmudi.<br />
“Murid baru? Tengah tahun pelajaran begini?” kening Mutiara berkerut. Pasti ada yang tak beres, pikirnya dalam hati.</p>
<p>Ia pun segera bergegas menuju ruang kepala sekolah dan segera mengetuk pintu sesampai ia di sana. Pak Bustomi segera mempersilakan Mutiara masuk. Mutiara pun segera masuk dan didapatinya di ruangan itu telah menunggu seorang pria perlente bersama seorang anak remaja tanggung berusia 15 tahunan. Mutiara menyapa pria itu dengan menganggukkan kepalanya. Sang tamu membalasnya dengan hal yang sama sembari mengulaskan sebuah senyuman dengan memperlihatkan sebaris giginya yang berjajar rapi.</p>
<p>Mutiara segera duduk di satu-satunya kursi yang masih kosong di ruangan itu.</p>
<p>“Begini, Bu Mutia,” kata Pak Bustomi memulai pembicaraan. “Kenalkan, ini Pak Husin, pemilik perkebunan.”<br />
Mutiara mengerutkan keningnya. O, ini ternyata yang namanya Pak Husin itu. Namanya memang terkenal seantero desa, tetapi ia belum pernah melihat wajahnya sekalipun. Ia menatap Pak Bustomi bergantian dengan Pak Husin. Ada apa gerangan maksud orang kaya itu ke sekolahnya?</p>
<p>“Pak Husin hendak memindahkan putranya bersekolah di sini, Bu Mutia. Kelas IX. Yang masih ganjil kelas IX B, kan Bu?” lanjut pak Kepala Sekolah.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;kutipan<br />
Jumlah kata: 2219</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundaninha.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundaninha.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundaninha.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundaninha.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bundaninha.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bundaninha.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bundaninha.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bundaninha.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundaninha.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundaninha.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundaninha.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundaninha.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundaninha.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundaninha.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=45&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/06/lima-murid-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b5c25099886eac1c7bccdc57a7c76b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaninha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Empat: Musim Panen Kopi</title>
		<link>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/empat-musim-panen-kopi/</link>
		<comments>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/empat-musim-panen-kopi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 03:35:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dianingtyas Kh.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundaninha.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Perkebunan kopi itu membentang di lereng hingga kaki gunung Wayang, membentang sejauh mata memandang, dari barat sampai ke timur. Dan, hebatnya, itu bukan milik Perhutani melainkan milik pribadi. Sebenarnya perkebunan kopi itu awalnya merupakan tanah milik banyak orang, namun entah &#8230; <a href="http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/empat-musim-panen-kopi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=43&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkebunan kopi itu membentang  di lereng hingga kaki gunung Wayang, membentang sejauh mata memandang, dari barat sampai ke timur. Dan, hebatnya, itu bukan milik Perhutani melainkan milik pribadi. Sebenarnya perkebunan kopi itu awalnya merupakan tanah milik banyak orang, namun entah mengapa, sang pemilik tanah satu per satu menjual tanah itu kepada Pak Husin, seorang tuan tanah dari kota kabupaten. Oleh sang pemilik baru, semua lahan yang dibelinya dijadikan sebagai perkebunan kopi. </p>
<p>Selain perkebunan kopi, Pak Husin juga mendirikan pabrik pengolahan biji kopi. Pabrik ini didirikan di ujung desa, dekat jalan besar. Di area pabrik terdapat gudang-gudang penyimpanan kopi yang akan diolah.  Sebagian besar masyarakat desa Sumberwayang menggantungkan nafkahnya dengan bekerja di perkebunan dan pabrik kopi. Mereka berpendapat, dengan bekerja di perkebunan, mereka akan mendapatkan penghasilan tetap setiap bulan. Tentu saja, hal ini lebih aman bagi mereka karena hasil sawah yang hanya sepetak tak mampu diandalkan hasilnya. Terkadang hama yang menyerang dan harga panen yang merosot membuat mereka terus merugi. </p>
<p>Untunglah, pemilik perkebunan itu orang yang dermawan. Meskipun tak setiap hari melongok perkebunannya, hak karyawan selalu diperhatikan. Upah yang melebih UMK, asuransi kerja, dan juga tunjangan hari raya selalu mereka dapatkan. </p>
<p>Masih kutipan</p>
<p>Jumlah kata: 861</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundaninha.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundaninha.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundaninha.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundaninha.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bundaninha.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bundaninha.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bundaninha.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bundaninha.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundaninha.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundaninha.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundaninha.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundaninha.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundaninha.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundaninha.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=43&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/empat-musim-panen-kopi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b5c25099886eac1c7bccdc57a7c76b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaninha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga: Tentang Jazuli</title>
		<link>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/tiga-tentang-jazuli/</link>
		<comments>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/tiga-tentang-jazuli/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 03:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dianingtyas Kh.</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundaninha.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Disiplin. Hal itulah yang paling utama hendak diterapkan Mutiara di sekolah ini, khususnya bagi dia dan murid-muridnya. Untuk urusan guru lain, ia tak mau ikut campur karena disiplin adalah tanggung jawab pribadi. Ia hanya mau memberikan keteladanan bagi anak-anak didiknya. &#8230; <a href="http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/tiga-tentang-jazuli/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=41&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disiplin. Hal itulah yang paling utama hendak diterapkan Mutiara di sekolah ini, khususnya bagi dia dan murid-muridnya. Untuk urusan guru lain, ia tak mau ikut campur karena disiplin adalah tanggung jawab pribadi. Ia hanya mau memberikan keteladanan bagi anak-anak didiknya. Selain datang pagi setiap hari, ia juga tak pernah terlambat masuk kelas. Mutiara paling tak bisa mentolerir anak yang terlambat atau membolos tanpa keterangan. Namun, hari ini ia merasa kecewa pada seorang anak didiknya karena sudah enam kali membolos tanpa izin. Jazuli, nama anak itu. </p>
<p>Siang itu, pada jam terakhir ia masuk ke kelas Jazuli. Kebetulan sang murid sedang masuk sekolah sehingga ia bisa menanyai Jazuli apa alasannya sering membolos. Kebetulan rumah Jazuli agak jauh dari tempat tinggalnya sehingga ia tak mengetahui apa latar belakang yang menyebabkan Jazuli sering membolos.</p>
<p>“Kenapa, Li?” tanya Mutiara halus kepada Jazuli. Tak tampak kesan marah pada raut wajahnya meskipun ia jengkel bukan main pada Jazuli. </p>
<p>Yang ditanya menunduk.<br />
Tiba-tiba terdengar celetukan dari belakang,” Jazuli momong, Bu!”  Itu suara Bagong, anak berubuh pendek gempal yang sebenarnya sewaktu baru lahir diberi nama Bagus oleh orang tuanya. Anak-anak yang mendengar celetukan Bagong tertawa. Jazuli menunduk lesu. Ia malu karena teman-temannya tahu bahwa  ia membolos karena momong adik-adiknya yang ditinggal ibunya buruh gorek di kebin kopi.</p>
<p>“Betul, Li?” tanya Mutiara pelan.<br />
Jazuli mengangguk.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..kutipan</p>
<p>Jumlah kata: 1384</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundaninha.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundaninha.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundaninha.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundaninha.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bundaninha.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bundaninha.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bundaninha.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bundaninha.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundaninha.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundaninha.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundaninha.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundaninha.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundaninha.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundaninha.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=41&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/tiga-tentang-jazuli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b5c25099886eac1c7bccdc57a7c76b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaninha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua: Aroma Kopi dalam Balutan Hujan</title>
		<link>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/dua-aroma-kopi-dalam-balutan-hujan/</link>
		<comments>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/dua-aroma-kopi-dalam-balutan-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 03:20:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dianingtyas Kh.</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[J50K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundaninha.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Gerimis sore ini mengundang kabut. Mutiara mengatakannya udan salah mangsa karena hujan itu jatuh ketika Juli belum lagi selesai. masih pertengahan kemarau. Namun, Mutiara selalu senang menikmati hujan, kapan pun hujan itu menjatuhkan dirinya. Apalagi setelah panas seharian, ia akan &#8230; <a href="http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/dua-aroma-kopi-dalam-balutan-hujan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=38&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gerimis sore ini mengundang kabut. Mutiara mengatakannya udan salah mangsa karena hujan itu jatuh ketika Juli belum lagi selesai. masih pertengahan kemarau. Namun, Mutiara selalu senang menikmati hujan, kapan pun hujan itu menjatuhkan dirinya. Apalagi setelah panas seharian, ia akan membaui aroma tanah yang menguap bersama turunnya titik-titik air itu. Aroma yang khas, dan membuat ia selalu merindukan hujan.</p>
<p>Mutiara berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka. Selain aroma tanah yang menguap, ia memang senang sekali membaui aroma kabut. Selalu saja ada nuansa masa lalu yang kembali menyentuh imajinya dalam kabut itu. Angin yang datang perlahan menyentuh tirai angin berbentuk bintang-bintang menghadirnya dentingan yang terasa sungguh merdu di telinga Mutiara.</p>
<p>Rumah yang sepi. Hanya Mutiara bertiga dengan Mak Yem dan Bu Wiryo di rumah ini. Mak Yem, pembantu tua yang sudah seperti saudara itu telah bekerja sejak Mutiara belum lahir. Ia tahu semua sejarah hidup Mutiara dan karena itu ia sangat sayang kepada anak gadis itu.</p>
<p>Pak Wiryo meninggal dunia ketika Mutiara baru saja menuntaskan kuliahnya. Sebelum meninggal, lelaki baik hati itu meminta Mutiara untuk melanjutkan perjuangannya membesarkan SMP Bakti Bangsa. Selain itu, beliau juga berpesan agar Mutiara menjaga ibu dan adiknya. Karena amanat itulah, Mutiara enggan beranjak dari desanya, meskipun Irfan telah menantinya dengan ajakan untuk menikah. Baginya, amanat adalah kewajiban yang harus ia tunaikan, pantang surut sebelum amanat itu terlaksana.</p>
<p>“Kopi, Ndhuk…” kata Mak Yem sekonyong-konyong dari belakang.<br />
Mutiara menoleh pada perempuan tua yang masuk ke kamarnya, lalu tersenyum padanya.<br />
“Terimakasih, Mak,” katanya.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..kutipan<br />
Jumlah kata 1066</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundaninha.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundaninha.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundaninha.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundaninha.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bundaninha.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bundaninha.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bundaninha.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bundaninha.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundaninha.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundaninha.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundaninha.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundaninha.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundaninha.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundaninha.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundaninha.wordpress.com&amp;blog=29365570&amp;post=38&amp;subd=bundaninha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundaninha.wordpress.com/2012/01/05/dua-aroma-kopi-dalam-balutan-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b5c25099886eac1c7bccdc57a7c76b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaninha</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
