Empat: Musim Panen Kopi

Perkebunan kopi itu membentang di lereng hingga kaki gunung Wayang, membentang sejauh mata memandang, dari barat sampai ke timur. Dan, hebatnya, itu bukan milik Perhutani melainkan milik pribadi. Sebenarnya perkebunan kopi itu awalnya merupakan tanah milik banyak orang, namun entah mengapa, sang pemilik tanah satu per satu menjual tanah itu kepada Pak Husin, seorang tuan tanah dari kota kabupaten. Oleh sang pemilik baru, semua lahan yang dibelinya dijadikan sebagai perkebunan kopi.

Selain perkebunan kopi, Pak Husin juga mendirikan pabrik pengolahan biji kopi. Pabrik ini didirikan di ujung desa, dekat jalan besar. Di area pabrik terdapat gudang-gudang penyimpanan kopi yang akan diolah. Sebagian besar masyarakat desa Sumberwayang menggantungkan nafkahnya dengan bekerja di perkebunan dan pabrik kopi. Mereka berpendapat, dengan bekerja di perkebunan, mereka akan mendapatkan penghasilan tetap setiap bulan. Tentu saja, hal ini lebih aman bagi mereka karena hasil sawah yang hanya sepetak tak mampu diandalkan hasilnya. Terkadang hama yang menyerang dan harga panen yang merosot membuat mereka terus merugi.

Untunglah, pemilik perkebunan itu orang yang dermawan. Meskipun tak setiap hari melongok perkebunannya, hak karyawan selalu diperhatikan. Upah yang melebih UMK, asuransi kerja, dan juga tunjangan hari raya selalu mereka dapatkan.

Masih kutipan

Jumlah kata: 861

Preambule

Minggu pagi nan cerah di Ceruk. Seorang perempuan, berusia 28 tahunan tengah asyik menikmati pagi di sana bersama seorang bocah kecil. Mungkin setahun usianya. Bocah yang belum tegak jalannya tengah asyik mengejar bolanya yang berlarian ke sana-kemari. Tak ayal, sebentar-sebentar ia jatuh dan si perempuan akan bergegas untuk membantunya berdiri kembali.

“Pagi yang indah ya, Bin…,” kata perempuan itu kepada si bocah.
Bocah kecil yang sedari tadi asyik mengejar bola itu tiba-tiba berhenti dan menguap.
“Ah, kamu, ngantuk aja pekerjaanmu. Sebentar lagi kita cari gethuk, ya,” kata perempuan itu menowel hidung si bocah. Bintang namanya.
“Ikut, budhe,” kata si bocah sambil menggapaikan tangannya kepada sang perempuan. Budhenya, ternyata.

Sang budhe segera membawa Bintang ke pelukannya. Karena masih ingin menikmati suasana Ceruk, ia pun tetap berdiri di sana. Di sisi kirinya, nun jauh di sana, gunung Wayang tampak menjulang dengan kokohnya. Sudah tak tampak luka-luka sisa reformasi belasan tahun lalu yang pernah menggerogotinya. Ya, dulu, semasa reformasi, ketika rakyat tengah terjebak euforia kebebasan, gunung itu pernah hampir habis tumbuhannya, berganti dengan tanaman palawija. Untunglah, terjadi longsor yang tak merenggut korban jiwa. Dikatakan untung, karena tak ada korban jiwa dan setelah itu penduduk sadar untuk tak terus menggunduli hutan mereka dan menanaminya dengan palawija. Mereka pun menanam tanaman keras dan hari ini, sang gunung tampak menghijau kembali. Indah, aman, dan tetap menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitarnya.

Di kaki gunung yang kokoh itu terbentang perkebunan kopi yang sangat luas, memanjang dari barat sampai ke timur, sejauh mata memandang. Jika musimnya berbunga, aroma semerbaknya sungguh terasa menyegarkan. Khas aroma kembang kopi. Kebun kopi itu milik seorang pengusaha dari kota, namun sebagian penduduk desa Sumberwangi menggantungkan kehidupannya dari bekerja di sana. Sebagian mereka menjadi buruh perawat kebun, sebagian yang lain bekerja di pabrik pengolahan kopi. Jika sedang tiba musim panen, tenaga kerja yang terserah lebih banyak lagi. Selain panen pohon, mereka juga diperbolehkan gorek. Gorek adalah memunguti sisa kopi yang terjatuh di tanah maupun yang tersisa di atas pohon yang karena saat panen belum cukup umur. Jika mereka buruh panen, maka semua hasil kopi disetor pada sang pemilik pabrik dan mereka mendapatkan upah berdasarkan jumlah kopi yang berhasil dipetik. Namun, jika gorek, upah dihitung separuh dari hasil gorek. Hasil gorek ini bisa dijual kepada pabrik atau dibawa pulang.

Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah timur. Sejauh mata memandang dilihatnya lembah-lembah yang tampak membiru. Pegunungan kapur tampak memutih nun jauh di sana. Indah, semua tampak indah. Di bawahnya, terhampar kebun sayur dan bunga mawar. Namun, yang lebih indah lagi, pagi yang cerah itu dihiasi warna keemasan yang ter pancar dari hangatnya mentari pagi. Hangat menyentuh pipinya yang tadi dingin, perlahan pipi itu memerah.

“Tidur, Bin? Lihat nih, pemandangannya begitu sempurna…”
Melihat bocah itu tertidur di pelukannya, perempuan itu segera membopongnya ke bahu. Mungkin ia menyesal tak membawa selendang untuk ngemban si bocah. Dari kejauhan, sosoknya nampak seperti siluet ibu yang membawa anaknya.

“Sempurna,” kata desah sebuah sosok di balik kanvas, nun agak jauh di rerimbunan perdu mawar.

Perempuan itu, Mutiara namanya. Ialah awal segala kisah ini, jauh sejak Bintang belum dilahirkan ibunya ke muka bumi ini.

Jumlah kata 510