Sebelas: Kejutaann!!!

Hidup tanpa semangat ibarat obor yang redup karena kehabisan minyak tanah. Ibarat senter yang batereinya hampir habis. Ibarat sungai Kembang yang surut karena sumber airnya mati diterjang kemarau panjang. Ibarat bintang jatuh yang meredup tergesek oleh oksigen. Itulah Mutiara hari ini.

Menghabiskan waktu di sekolah dengan anak-anak memang menjadi kesenangannya. Namun, tetap saja gairah itu tak dapat naik lagi menjadi seperti sedia kala. Mutiara jadi lebih banyak melamun di dalam kelas. Suasana kelas mendadak murung. Meskipun Taufan sudah mau berinteraksi saat pelajaran, tanpa Warti dan semangat Bu Mutia, anak-anak merasa ada separuh jiwa mereka yang hilang.

“Kita tak boleh membiarkan hal ini,” kata Dedi memberi usul.

“Setuju. Kita jangan sampai kehilangan semangat,” sahut Jazuli.

“Bu Mutia harus kembali bersemangat seperti dulu,” kata Widya dari belakang.

“Caranya?” kali ini Menik yang berbicara.

Sesaat kemudian mereka pun menggerombol dan menyusun rencana. Rencana akan dilakukan besok, tepat pada saat ulang tahun Mutiara yang kedua puluh tujuh, Untuk menyukseskan rencana ini, mereka minta bantuan kepada Bu Titi, guru IPS dan Pak Is. Mereka memang guru-guru muda yang dekat dengan anak-anak di sekolah.

***
Keesokan harinya.

“Bu Mutia….” tiba-tiba Menik datang dengan tergopoh-gopoh. Mutiara yang saat itu tengah berada di perpustakaan yang selokal dengan kantor guru melengak. Istirahat kedua baru saja usai dan anak-anak harusnya sudah kembali masuk ke dalam kelas.

“Ada apa?”

“Dedi, Bu….”

“Kenapa dengan Dedi?”

“Dedi bertengkar lagi dengan Taufan…”

“Apa?” Mutiara terlonjak. ia sangat terkejut mendengar berita ini. Sepengetahuannya Taufan sudah berubah sikapnya, tapi mengapa hari ini ia berkelahi lagi?

“Di mana mereka?”
………………………………….
Yang jelas, ada bahagia yang menyelinap di dalam hatinya melihat rona bahagia yang memancar dari raut cantik gadis itu.

Hanya kutipan aja, yaaaaa…..

Jumlah kata 1870

Sepuluh: Sekelumit Kisah Warti

Sejak kejadian di sungai itu, perlahan-lahan sikap Taufan mulai berubah. Ia tak lagi suka membolos meskipun belum semua tugas ia lengkapi. Tugas telah telanjur menumpuk dan mungkin berat dirasa oleh anak itu. Mutiara yang mengetahui kesulitan Taufan pun segera memanggil Warti, sang ketua kelas sekaligus juara kelas untuk membantu Taufan.

Namun, sayang sungguh sayang. Berita yang didengarnya pagi ini sungguh tak mengenakkan hati. Hari ini dan selamanya, Warti tak lagi bersekolah di SMP Bakti Bangsa karena orang tuanya menyuruhnya untuk menjadi TKW. Ia berangkat kemarin sore, setelah mengurus semua administrasi desa yang dengan mudah mengubah usianya yang masih lima belas tahun menjadi dua puluh tahun.

Lemaslah Mutiara. Tiga bulan lagi Warti harusnya menjalani ujian akhir nasional demi memperoleh ijazah SMP. Hari ini, ia dikejutkan pada kenyataan bahwa anak emasnya itu harus pupus di tengah jalan karena masalah ekonomi yang menimpa keluarganya. Ia, yang anak sulung harus bertanggung jawab atas keadaan itu. Demi kelangsungan hidup dan sekolah adik-adiknya, ia rela keluar dari bangku SMP, demi mengais dolar di negeri seberang.

“Mbak Susan yang mengajaknya, Bu,” begitu kata emak Warti, ketika Mutiara mengunjungi rumahnya sepulang dari mengajar.

“Mbak Susan siapa, Mak?” tanya Mutiara. Ia memang sudah mengenal emak Warti dan terbiasa memanggilnya dengan sebutan emak sejak kecil.

“Itu, Mbak Susanti, yang rumahnya dekat pasar sayur.”

“Susanti? Seingat saya panggilannya dulu Santi. Kenapa sekarang jadi Susan?”

……………………………

Kutipan lagi…
Jumlah kata 1890

Sembilan: Di Air Jernih Kulukis Wajah Ibunda

Semua seperti roda. Berputar dan berputar. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Namun, bagaimana pun, hidup harus terus berjalan. Mutiara sadar itu, Meskipun belum dapat menghilangkan semua kesedihannya, ia tetap berangkat ke sekolah dan melaksanakan tugasnya seperti biasa. Justru, dengan ia berangkat ke sekolah, ia akan dapat melupakan kesedihannya.

Namun, entahlah, semua orang jadi bersikap aneh kepadanya. Tak ada lagi yang berani bergurau dengannya, seakan takut kalau gurauan itu akan menyakiti hati Mutiara. Teman-teman yang sedang bercengkerama pun mendadak diam jika ada dia di ruangan itu. Mutiara sangat bersedih melihat kenyataan ini, tetapi ia tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya diam saja melihat sikap kawan-kawannya. Ia tahu, mereka bersikap demikian karena mencintainya, karena takut membuat Mutiara tersinggung dan bersusah hati. Sudah berulang kali dikatakannya, ia tetaplah Mutiara yang dulu. Namun, semua berubah. Mutiara menjadi tak merasa nyaman jika tengah berada di kantor bersama mereka.

Setelah beberapa lamanya tak berulah, kali ini Taufan berulah lagi. Ia bolos saat jam pelajaran olahraga. Menurut kawannya, Taufan pergi ke sungai yang letaknya di lembah, tak jauh dari sekolahnya. Untuk menuju ke sungai itu cukup menuruni tebing-tebing yang tak begitu curam karena sudah dialihfungsikan sebagai tegalan. Mutiara yang dilapori oleh Pak Is segera menuju ke sungai untuk mencari anak itu.

Sungguh sebuah kebetulan tentunya. Ia butuh tempat untuk melarikan kesedihannya. Dan bolosnya Taufan siang ini adalah sebuah anugerah yang tak terkira baginya karena ia memiliki alasan untuk hengkang dari kantor yang membosankan. Segera saja ia bergegas menuju ke arah sungai. Dari pintu belakang sekolah, ia berjalan hati-hati menuruni tebing yang penuh bebatuan. Seperangkat alat gambar ada di dalam tas plastik di pegangan tangan kirinya. Ia sedang mempersiapkan terapi untuk Taufan.

……………………………………..
Kutipan kutipan…
Jumlah kata 2306

Delapan: Tak Seindah Janji Terucap

“Hei!” sapa Mutiara kepada Berlian di kamarnya, ketika ia usai mandi dan shalat magrib. Berlian menolehnya, lantas memeluknya dengan pelukan erat.

“Tumben, pulang nggak pakai acara kabar-kabar dulu,” kata Mutiara. Rindu sekali ia pada adiknya ini. Mungkin empat bulan mereka tak bertemu.. Terakhir saat lebaran haji kemarin, itu pun hanya sejenak ia pulang.

“Biar jadi kejutan, Ra,” katanya sambil tersenyum.
“Dan aku memang terkejut, kan?” sahut Mutiara jenaka. “Kamu kurusan sekarang. Capek dengan pekerjaan?”
Berlian mengangguk. “Begitulah Jakarta, Ra. Tak ada matinya. Beda sekali dengan desa kita, ya.”
“Itu makanya, aku heran kenapa kamu ngotot ke Jakarta. Kalau aku sih tak bisa tidur nanti.”
Gurauan Mutiara puin disambut dengan tawa berderai dari mereka berdua.

Memang, meskipun mereka berbeda karakter, hubungan mereka selalu akrab. Mutiara yang cukup tahu diri dengan keadaannya selalu bisa ngemong adiknya itu dalam semua hal sehingga Berlian pun menyayangi Mutiara seperti kakak kandungnya sendiri.

“Tiaraaa…” seru Bu Wirya dari ruang tamu. “Ke sinilah sebentar, Nak.”
“Ya, Bu,” sahut Mutiara sambil melangkah menuju ruang tamu. “Kamu tak ikut?” tanyanya kepada Berlian sebelum meninggalkan kamar Berlian. Berlian menggeleng. Ia tahu, sebentar lagi Mutiara pasti tak akan bisa tersenyum kepadanya.

***
Pernikahan itu pun akhirnya dilangsungkan dengan sangat sederhana tiga hari kemudian. Mutiara dengan ketegaran hati yang sempurna tampak mendampingi Berlian. Ditebarkannya senyum kepada semua orang yang memandangnya dengan penuh kasihan. Ya, penuh kasihan.

Padahal, Mutiara paling benci dikasihani. Dikasihani orang hanya akan melemahkan hati saja. Namun, ia pun tak dapat melarang orang-orang itu kasihan kepadanya. Hidupnya memang layak untuk dikasihani. Seandainya ia adalah orang lain yang melihat kondisinya seperti itu, ia juga pasti akan jatuh kasihan.

Bayangkan saja. Anak yang sejak lahir tak mengenal bapaknya karena pergi dengan perempuan lain. Hidupnya sebagai anak pungut dan akhirnya harus mengalah kepada adiknya, anak orang tua yang mengangkatnya anak, untuk menyerahkan kekasihnya kepada adiknya itu. Seorang perawan tua yang batal menikah dan dilangkahi adiknya. Lengkap sudah penderitaannya.

Ah, tidak, kata Mutiara menguatkan hati. Masih ada anak-anak. Merekalah jiwanya. Merekalah pengabdiannya. Urungnya pernikahannya justru akan membuatnya bisa bertahan lebih lama di sekolahnya tercinta.

Aku harus bangkit, tekadnya.
Jumlah kata: 1574

Masih kutipan…

Tujuh: Sang Pelukis

Mutiara melangkah dengan gamang. Dilihatnya seorang lelaki muda, mungkin seusianya tengah melukis di depan sebuah kanvas. Selain lukisan setengah jadi yang dilihat Mutiara, ia juga menyaksikan beberapa benda seni terpajang di sana. Beberapa patung yang tinggal memasuki tahap finishing, beberapa ukiran kayu, dan sejumlah besar lukisan. Semuanya bagus, semuanya indah. Rupanya sang pelukis termasuk penganut aliran realisme dan Mutiara sangat menyukai lukisan-lukisan bergaya demikian karena ia memang bukan orang seni sehingga terkadang susah untuk memahami karya-karya seni yang bersifat absrak atau ekspresionisme.

Mutiara begitu kagum terhadap karya-karya senirupa yang ada di depannya, tetapi mendadak kekagumannya bertambah melihat sesosok tubuh tampan yang sedang berada di depan sebuah kanvas, asyik menyelesaikan lukisannya yang masih setengah jadi. Laki-laki itu bertubuh tinggi, tak begitu kekar tetapi proporsional. Kulitnya terang, tetapi tak menunjukkan kesan lemah. Hidung dan bibirnya adalah perpaduan sempurna mahakarya Sang Pencipta. Rambut hitamnya agak ikal, sedikit panjang tetapi justru menunjukkan paduan yang sempurna dengan hidung dan mulutnya. Namun, yang paling membuat Mutiara terpaku pada mata kelam yang sekarang tak sedang menatapnya itu. Mata itu mengandung magnet yang luar biasa, yang membuat orang akan tunduk padanya hanya dengan dipandang saja.

Sayang, mata itu tak kunjung menatapnya sehingga Mutiara tak tahu bagaimana hendak memulai percakapan. Bagaimana hendak memulai jika satu-satunya orang di ruangan itu tak sadar akan kehadirannya? Sesaat lamanya Mutiara mematung saja, menunggu sang empunya ruangan mempersilakannya berbicara. Namun, setelah ditunggunya sekian lama, si pelukis itu abai terhadap keberadaannya, kekaguman Mutiara terhapad laki-laki itu mendadak luntur. Meskipun tampan, ahli lukis, kalau tak menghargai orang lain, apalagi tamu, apalah baiknya. Tiba-tiba menyelusup jengkel yang teramat sangat kepada laki-laki itu. Alangkah sombongnya ia. Apa karena ia kaya lantas berhak bersikap seperti itu?

…………………….. kutipan
Jumlah kata: 1644

Enam: Romansa

Hujan masih menyisakan gerimis ketika Mutiara remaja berdiri di bawah gerbang sekolahnya untuk menunggu angkutan desa yang menuju rumahnya. Angkutan desa berupa mobil Isuzu itu memang hanya datang setengah jam sekali. Jika ia terlambat datang, maka dipastikan ia akan meunggu lama di depan sekolah. Masih untung jika belum kesorean. Jika sudah sore, dipastikan ia tak dapat angkutan dan harus pulang dengan dokar sampai kota kecamatan. Setelah itu ia akan berjalan kaki sambil menunggu nunutan dermawan yang memberikan pertolongannya.

“Gara-gara dipanggil Pak Dwi, nih,” gerutunya. Jam terakhir tadi Pak Dwi memanggilnya untuk membantu memperbaiki lay out mading sekolah yang sudah mendekati batas waktu.

Berlian sudah pulang terlebih dahulu bersama teman-teman satu gank-nya. Tinggallah ia seorang diri karena keluar sekolah sejam setelah bel terakhir tanda pulang sekolah dibunyikan.

“Sendirian?” tanya sebuah suara menyapanya.
Mutiara menoleh. Irfan. Anak kelas III, sang mantan ketua OSIS yang ganteng itu. Mutiara tersenyum.
“Ya, Kak. Tadi disuruh Pak Dwi bantu benahin mading.”
“Wah, jadi kamu anak mading? Biasanya anak mading pinter-pinter…”
“Ah, Kakak bisa saja. Saya sih biasa saja, Kak. Kak Irfan tuh, yang lebih pinter,” sahut Mutiara.
“Kamu kenal namaku?” tanya cowok itu membulatkan matanya seolah keheranan.

Mutiara tertawa renyah.
“Kakak ada-ada saja, deh. Siapa sih yang tak kenal Kak Irfan. Kan mantan ketua OSIS.”
Irfan tertawa. Manis sekali.

Kutipan………
Jumlah kata: 1459

Lima: Murid Baru

“Bu Mutia, dipanggil Pak Kepala,” kata Mahmudi, TU SMP Bakti Bangsa kepada Mutiara pada jam istirahat.
“Ada penting apakah, Mud? Tumben Pak Kepala memanggilku,” sahut Mutiara yang segera beranjak dari tempat duduknya.
“Kelihatannya ada murid baru, Bu,” sahut Mahmudi.
“Murid baru? Tengah tahun pelajaran begini?” kening Mutiara berkerut. Pasti ada yang tak beres, pikirnya dalam hati.

Ia pun segera bergegas menuju ruang kepala sekolah dan segera mengetuk pintu sesampai ia di sana. Pak Bustomi segera mempersilakan Mutiara masuk. Mutiara pun segera masuk dan didapatinya di ruangan itu telah menunggu seorang pria perlente bersama seorang anak remaja tanggung berusia 15 tahunan. Mutiara menyapa pria itu dengan menganggukkan kepalanya. Sang tamu membalasnya dengan hal yang sama sembari mengulaskan sebuah senyuman dengan memperlihatkan sebaris giginya yang berjajar rapi.

Mutiara segera duduk di satu-satunya kursi yang masih kosong di ruangan itu.

“Begini, Bu Mutia,” kata Pak Bustomi memulai pembicaraan. “Kenalkan, ini Pak Husin, pemilik perkebunan.”
Mutiara mengerutkan keningnya. O, ini ternyata yang namanya Pak Husin itu. Namanya memang terkenal seantero desa, tetapi ia belum pernah melihat wajahnya sekalipun. Ia menatap Pak Bustomi bergantian dengan Pak Husin. Ada apa gerangan maksud orang kaya itu ke sekolahnya?

“Pak Husin hendak memindahkan putranya bersekolah di sini, Bu Mutia. Kelas IX. Yang masih ganjil kelas IX B, kan Bu?” lanjut pak Kepala Sekolah.

………………………kutipan
Jumlah kata: 2219