Hidup tanpa semangat ibarat obor yang redup karena kehabisan minyak tanah. Ibarat senter yang batereinya hampir habis. Ibarat sungai Kembang yang surut karena sumber airnya mati diterjang kemarau panjang. Ibarat bintang jatuh yang meredup tergesek oleh oksigen. Itulah Mutiara hari ini.
Menghabiskan waktu di sekolah dengan anak-anak memang menjadi kesenangannya. Namun, tetap saja gairah itu tak dapat naik lagi menjadi seperti sedia kala. Mutiara jadi lebih banyak melamun di dalam kelas. Suasana kelas mendadak murung. Meskipun Taufan sudah mau berinteraksi saat pelajaran, tanpa Warti dan semangat Bu Mutia, anak-anak merasa ada separuh jiwa mereka yang hilang.
“Kita tak boleh membiarkan hal ini,” kata Dedi memberi usul.
“Setuju. Kita jangan sampai kehilangan semangat,” sahut Jazuli.
“Bu Mutia harus kembali bersemangat seperti dulu,” kata Widya dari belakang.
“Caranya?” kali ini Menik yang berbicara.
Sesaat kemudian mereka pun menggerombol dan menyusun rencana. Rencana akan dilakukan besok, tepat pada saat ulang tahun Mutiara yang kedua puluh tujuh, Untuk menyukseskan rencana ini, mereka minta bantuan kepada Bu Titi, guru IPS dan Pak Is. Mereka memang guru-guru muda yang dekat dengan anak-anak di sekolah.
***
Keesokan harinya.
“Bu Mutia….” tiba-tiba Menik datang dengan tergopoh-gopoh. Mutiara yang saat itu tengah berada di perpustakaan yang selokal dengan kantor guru melengak. Istirahat kedua baru saja usai dan anak-anak harusnya sudah kembali masuk ke dalam kelas.
“Ada apa?”
“Dedi, Bu….”
“Kenapa dengan Dedi?”
“Dedi bertengkar lagi dengan Taufan…”
“Apa?” Mutiara terlonjak. ia sangat terkejut mendengar berita ini. Sepengetahuannya Taufan sudah berubah sikapnya, tapi mengapa hari ini ia berkelahi lagi?
“Di mana mereka?”
………………………………….
Yang jelas, ada bahagia yang menyelinap di dalam hatinya melihat rona bahagia yang memancar dari raut cantik gadis itu.
Hanya kutipan aja, yaaaaa…..
Jumlah kata 1870
